Selasa, 21 Februari 2012

Contoh narasi dan naskah drama dari narasi

Tugas B. Indonesia
Nama : Dicky Mahardhika
Kelas  : XI IPA 1
Berkah di Hari Kemerdekaan
            Menjelang peringatan hari kemerdekaan, aku dan teman-teman latihan Drum Band di lapangan dekat sekolahku. Seorang pemulung seusiaku memerhatikan kami berlatih. Mula-mula aku tidak menghiraukannya. Tapi... setelah kuperhatikan, mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pasti dalam hatinya ada keinginan untuk sekolah dan ikut kegiatan seperti kami. Dia juga anak Indonesia, ingin memperingati HUT Kemerdekaan negeri ini.
Rasa ibaku muncul. Tapi… apa yang bisa dilakukananak seusiaku. Aku hanya bisa menyisihkan Rp. 5000 dari uang jajanku untuk amal di sekolahku. Aku berharap sekolahku memiliki anak asuh lebih banyaklagi, supaya aku tidak melihat anak-anak seusiaku tidak bersekolah.  
            Upacara dimulai pukul 07.00. seperti biasa sekolahku mengundang anak asuh untuk diberi santunan. Mereka berasal dari sekolah lain, disela-sela acara pemberian beasiswa tersebut, tiba-tiba mataku tertuju pada seorang anak laki-laki. Aku kira usianya hampir sama denganku, sepertinya akupernah melihat anak itu, tapi dimana ya? fikirku. Setelah acara hampir selesai baru aku teringat dengannya. Ya tak salah lagi, dia adalah pemulung yang sering memperhatikan kami latihan Drum Band tempohari. Aku sering melihatnya duduk di bawah pohon untuk melepas lelah. Ternyata dia sekolah dan menjadi anak asuh sekolahku. Aku sedikit terharu.
            Setelah acara selesai, aku menemuinya “ Maaf, sepertinya aku pernah melihatmu, apakah benar kau adalah pemulung yang sering duduk dibawah pohon itu? tanyaku sambil menunjuk pohon yang ku maksud. “Kok kamu tau?” tanyanya. “Aku pernah memperhatikanmu, aku fikir kamu tidak sekolah ternyata kamu sekolah juga.” “ Aku baru dua minggu sekolah lagi, memang sih, dulu aku pernah sekolah sampai kelas lima, tapi karena orang tuaku tidak mempunyai uang, aku berhenti sekolah dan menjadi pemulung seperti yang kau lihat.”
            Dia pun menceritakan bagaimana dia bisa bersekolah lagi, ternyata dia bisa bersekolah lagi atas bantuan orang tua asuh yang berasal dari sekolahku. Namun dia mengaku masih menjadi pemulung setelah sekolah dan semua PR-nya selesai, hal itu dilakukannya untuk membantu orang tuanya.
            Kami pun berkenalan, ternyata namanya Ilham. Dia tinggal di Kampung Sawah. Dia juga ternyata sering memulung di komplekku. Ilham mengaku akan berusaha untuk tidak akan mengecewakan orang tua asuhnya dan ingin mencapai cita-citanya. Ada keceriaan memancar dari ucapan dan sikapnya yang pasti bermula dari dalam hatinya. Entah mengapa, aku juga turut merasakan kebahagiaan.

Teks Drama Berkah di Hari Kemerdekaan
           
            Di lapangan parkir depan sekolah yang di kelilingi pohon-pohon yang rindang dan ada beberapa warung yang menjual makanan ringan, maupun pedagang makanan dan mainan keliling. Siang itu aku dan Ilham berdiri di depan pedagang siomay.
Dicky : “ Maaf, sepertinya aku pernah melihatmu. Apa benar kamu pemulung ya-
             ng sering aku lihat duduk di pohon itu? ” ( Menunjuk pohon ).
Ilham : “ Kok kamu tau? ”
Dicky : “ Aku sering memehatikanmu. Aku fikir kamu tidak sekolah, ternyata ka-
             mu sekolah juga. ”
Ilham : “ Aku baru dua minggu ini sekolah lagi. Dulu aku pernah sekolah sampai
             kelas lima tapi karena orang tuaku tidak punya uang, jadi aku berhenti se-
             kolah dan menjadi pemulung seperti yag kamu lihat . ”
Dicky : “ Bagaiman ceritanya kamu bisa sekolah lagi? ”
Ilham : “ Aku beruntung, sebulan yang lalu ada seorang guru yang datang ke ru-
            mahku, dia menyuruhku sekolah lagi. Katanya ada orang tua asuh yang
            akan membayar semua kebutuhan sekolahku, pastinya aku senang sekali. ”
            ( Matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis)
Dicky : “ Apa kamu kenal dengan orang tua asuhmu? ”
Ilham : “ Tidak, tapi aku tau dari gurunya orang tua asuhmu berasal dari sekolah-
            mu, makanya aku kesini. Aku sangat berterima kasih, gak kebayang sebe-
            lumnya aku bisa sekolah lagi. ”
Dicky : “ Apa kamu masih jadi pemulung? ” 
Ilham : ” Ya, aku fakir jadi ga ada salahnya. Tapi aku melakukannya setelah aku
            sekolah dan PR-ku selesai. Hitung=hitung untuk bantu orang tuaku. “
Dicky : “ Oh ya, namamu siapa? “
Ilham : “ Aku Ilham. Aku tinggal di Kampung Sawah bersama adik dan ibuku,
            ayahku sudah meninggal. “
Dicky : “ Aku Dicky, aku tinggal di Perumahan Ciputat Baru. “
Ilham : “ Aku tau tempat itu, aku sering lewat di sana mencari barang bekas. “
Dicky : “ Kapan-kapan kalau lewat mampir aja. Aku banyak buku bekas, jika ka-
            mu mau. “
Ilham : “ Apa kamu gak malu jika aku mampir? “
Dicky : “ Ngak lah, kenapa harus malu? Ya udah datang aja! “
Ilham : “ Oke, Dick! Hari kemerdekaan ini merupakan berkah bagiku, aku bisa se-
            kolah lagi dan aku mendapat teman sepertimu. Ternyata Tuhan itu ada dan
            mendengar doa-doaku. Sekolah merupakan hal yang terpenting bagi hi-
            dupku. Aku berharap bisa melanjutkan ke perguruan tinggi ( matanya me-
            nerawang membayangkan sesuatu ) Apa boleh orang sepertiku mempunyai
            cita-cita? “
Dicky : “ Tidak ada yang tidak mungkin. Tentu saja boleh, semua orang berhak
            untuk itu, termasuk kamu. “
Ilham : “ Makasih, Dik! Aku akan belajar sungguh-sungguh, aku tidak mau me-
            ngecewakan orang tua asuhku. “ ( Ada kebahagiaan terpancar dari wajah-
            nya ).
Dicky : “ Oke, Ham. Aku duluan ya! Orang tua aku udah nungguin tuh. “
Ilham : “ Oh ya. Sekali lagi makasih Dik, sampai jumpa! “
Dicky : “ Sip! “ ( Sambil mengangkat jempol tinggi-tinggi dan meninggalkan Il-
            ham ).
        Kami berpisah, aku berlari ke tempat parkir karena ayahku sudah menunggu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar